Keripik Ikan Dero

Desa Sambiroto terletak di wilayah Tayu, Jawa Tengah. Mayoritas masyarakatnya bekerja sebagai nelayan yang bertumpu pada sektor perdagangan ikan baik hasil tambak maupun hasil laut. 90 persen istri para nelayan bekerja pada bidang pengolahan ikan baik pengasapan atau pemanggangan ikan, kupas udang, rajungan, pembuatan krupuk ikan muniran, serta pembuatan kripik dero yang tergabung pada Kelompok Usaha Bersama (KUB) bernama Sejahtera 1 yang terbentuk pada 5 April 2008. Dengan karakteristik masyarakat yang pekerja keras dan penuh tanggung jawab mereka bisa saling melengkapi untuk bekerjasama. Bahwa para suami yang memperoleh hasil tangkapan ikan kemudian akan dibawa oleh para istri untuk siap olah dari mulai proses memilah, menimbang, menyortir, memfillet, sampai pembuatan olahan ikan. Adapun yang menjadi ikon desa Sambiroto saat ini adalah olahan kripik ikan dero. Harga ikan dero mentah yang diambil langsung dari dermaga per 5 Kg di harga Rp 6.000 dan jika sudah sampai rumahan di harga Rp 10.000- Rp 12.000. Adapun untuk tenaga membersihkan ikan dero per 3 Kg di harga Rp 15.000. Ikan dero yang telah bersih ini kemudian diolah untuk dilumuri tepung, telur dengan berbagai rempah seperti kunyit, daun jeruk, bawang putih, dan garam untuk kemudian digoreng dengan 2 kali penggorengan dan bisa bertahan sampai 6 bulan serta memiliki garansi pengembalian selama rentang waktu 3 bulan. Pembuatan kripik dero ini memerlukan teknik khusus sehingga hanya di tangan orang yang terbiasa dengan seluk beluk ikan yang mampu mengolahnya dengan baik dan benar.

Olahan kripik dero ini sudah dirintis sejak Oktober 2009 dan sudah dipasarkan di daerah Rembang, Surabaya sampai Jakarta. Adapun produknya diberi label “perahu layar” dengan produsennya adalah Ibu Sa’adah dan kripik dero ini telah mendapat sertifikat P-IRT sejak tahun 2011 dan sedang dalam proses pembuatan sertifikat dari MUI. Kemudian, KUB Sejahtera 1 melebarkan sayap dengan membuat produk olahan kripik dero baru bernama “wader segoro” dengan fasilitas dari Lembaga Swadaya Masyarakat SHEEP. Adapun harga per 1 Kg kripik dero di kisaran Rp 90.000- Rp 100.000 dan 1/4 Kg di harga Rp 25.000 serta untuk 1 ons di harga Rp 10.000. Ada juga krupuk muniran pendamping kripik dero yang di harga 1 pack dengan isi 10 bungkus yaitu Rp 8.000 dan kerupuk muniran mentahnya di harga Rp 6.500. Bagi masyarakat nelayan Sambiroto yang bertumpu pada hasil laut memang tidak bisa secara penuh menggantungkan hidup pada hasil laut saja karena ada saatnya tiba masa paceklik dan mereka harus bisa mencari jalan alternatif agar sepanjang tahun masih bisa memenuhi kebutuhan harian. Maka dari itu, dengan dukungan para pemberdaya masyarakat desa Sambiroto serta di dorong dengan usahanya untuk bangkit melanjutkan hidup yang lebih baik mampu mengembangkan olahan ikan agar dapat meningkatkan daya jual dan pendapatan masyarakat selain hasil ikan mentah.

Hal ini juga tidak lepas dari peran Bapak Sulistiono yang menahkodai berdiri dan berkembangnya KUB Sejahtera 1 serta mampu mengajak masyarakat di lingkungannya terutama para istri nelayan untuk berinovasi melalui kripik dengan bantuan Ibu Sa’adah. Awalnya ikan dero hanya untuk pakan ikan di tambak dan tidak ada nilai jualnya. Sekarang berkat inovasi yang ada maka terciptalah olahan kripik dero dan bahkan menjadi ikon olahan makanan khas pesisir desa Sambiroto. Bahkan, ketika ada bazar tahunan olahan kripik dero ini laris manis di jual kepada konsumen baik yang telah berlangganan maupun konsumen baru. Pada saat ini, Bapak Sulistiono telah digantikan oleh Bapak Ahmad Suko Surono sebagai ketua KUB Sejahtera 1 karena beliau sudah beralih tugas menjadi kepala desa setempat. Namun, tidak mengurangi eksitensi dari kegiatan KUB itu sendiri. Malah sekarang desa Sambiroto kian unik dengan gapuranya yang berbentuk ikan dan menjadi daya tarik tersendiri ketika berkunjung ke sana. Keunikan desa Sambiroto juga terlihat dari aktivitas masyarakat nelayannya bahwa yang menaiki sampan atau perahu diharuskan suci dari hadas besar maupun hadas kecil karena filosofinya bekerja dengan bahtera seperti halnya saat kita beribadah kepada Tuhan. Semua anggota badan harus suci secara keseluruhan. Tidak ada salahnya, jika ada waktu luang teman-teman singgah sejenak untuk menikmati panorama desa Sambiroto yang khas sebagai kampung pesisir serta berkeliling alun-alun Tayu. Biasanya daerah ini akan ramai di saat puncak ke 7 Hari Raya Idul Fitri dan pada saat tahun baru tiba. Teman-teman juga bisa menyewa perahu milik masyarakat lokal untuk menikmati keindahan bakau dan susunan pemukiman di desa Sambiroto, Tayu, Jawa Tengah dari dekat.

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan